37Rumah Adat Provinsi di Indonesia dengan Gambar. Penulis. Sellia Oey. -. Mei 1, 2022. 0. 259173. Indonesia sangatlah kaya akan keberagaman, baik budaya, suku, ras, dan agamanya. Selain itu, di Indonesia juga memiliki sekitar 34 RumahAdat | 3 Keunikan Rumah Adat Manggarai (Mbaru Niang/Mbaru Gendang I Nomor 3 sangat unik..Bangsa kita ini adalah bangsa yang sangat kaya akan ragam buda MemilikiTradisi Pemakaman yang Unik, Ini 5 Fakta Desa Trunyan di Bali. Desa Trunyan, Desa Wisata Bali dengan Sejuta Keunikan – CONTOH DESA. 5 Keunikan Bali Tak Ada di Daerah lain, Bahkan Satu-satunya di Dunia - Suara Bali. apa saja keunikan desa desa pada bacaan Desa unik di Bali - Brainly.co.id. 6 Fakta Desa Trunyan dan Tradisi Pemakaman Sebutkan10 Rumah Adat. Indonesia tidak hanya memiliki wilayah yang luas saja, tetapi juga memiliki keberaneka ragaman suku, budaya, agama dan adat istiadat. Rumah adat di indonesia antara lain rumah adat balon dari sumatera utara, rumah adat gadang dari sumatera barat, rumah adat rakyat dari bengkulu, rumah adat badui dari banten dan 40+ lagi. Tidakhanya di Indonesia saja, melainkan sampai keseluruh penjuru dunia. Banyak sekali kisah mengenai orang-orang indonesia yang tampil di panggung internasional dan membawakan tarian tradisional ini. Nah, sebelum kita mengetahui apa saja keunikan pada Tari Saman, mari kita mengenal secara sekilas tentang Tari Saman dari Provinsi Aceh ini. Apasaja keunikan pakaian adat Sumatra Barat, pakaian adat Kalimantan Selatan, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat, ya? Yuk, cari tahu kunci jawabannya! Baca Juga: Cari Jawaban Soal Kelas 4 Tema 7 Subtema 2: Keunikan Pakaian Adat Bali, Kalimantan Barat, Jawa Barat, dan Jambi. Keunikan Pakaian Adat Sumatra Barat g5Qo. Nusa Tenggara Timur NTT dengan ibu kota Kupang sebenarnya memiliki berbagai rumah adat yang unik dan khas. Namun, selama ini hanya rumah adat NTT bernama Mbaru Niang di kawasan Wae Rebo yang terekspos menjadi tujuan wisata selain Labuan Bajo. Padahal, selain Mbaru Niang masih ada banyak rumah adat lain yang ditinggali oleh suku berbeda di seluruh provinsi kepulauan ini. Apa saja jenis rumah adat tersebut dan bagaimana penjelasan detailnya? Berikut ini adalah ulasan mengenai apa nama berbagai rumah adat yang ada dan dilengkapi dengan gambar. Rumah Adat NTT dan Penjelasannya Jenis Rumah Adat NTT dan Keunikannya A. Rumah Adat Mbaru NiangFungsi Rumah AdatFilosofi, Ciri Khas dan Keunikan KonstruksiKonfigurasi Rumah dan Penjelasan B. Rumah Adat MusalakiFilosofi dan Fungsi Rumah AdatCiri Khas dan KeunikanKonfigurasi Ruang dan Penjelasannya C. Rumah Adat Sao Ata Mosa LakitanaD. Rumah Adat Sao Ngada Rumah Adat NTT dan Penjelasannya NTT adalah provinsi berbentuk kepulauan yang dihuni oleh beragam suku bangsa, antara lain suku Manggarai, Ende Lio, Atoni, Alor dan Rote. Masing-masing suku ini memiliki adat dan keunikannya yang berbeda, sehingga memunculkan berbagai rumah adat di NTT. Rumah tradisional yang bertransformasi menjadi rumah adat di NTT ini antara lain rumah Mbaru Niang, Musalaki, Sao Ngada serta Sao Ata Mosa Lakitana. Dalam bahasa NTT, Sao memiliki arti rumah adat. Oleh karenanya kebanyakan rumah adat diawali dengan nama Sao dan diberi imbuhan sesuai dengan karakter suku masing-masing. Beberapa nama rumah adat juga dipakai sebagai nama kolektif yang berdampingan dengan nama particular nama aslinya. Karena perkembangan budaya modern, penggunaan rumah adat ini semakin bergeser dan ditinggalkan. Salah satu contoh upaya preventif mencegah hilangnya rumah adat, maka sekelompok arsitek melakukan gerakan rumah asuh yang dimulai pada tahun 2008. Salah satu program yang berhasil adalah revitalisasi rumah Mbaru Niang di kampung Wae Rebo. Kawasan ini sekarang menjadi salah satu destinasi wisata utama di wilayah NTT bagi para traveler dan foto hunter. Jenis Rumah Adat NTT dan Keunikannya A. Rumah Adat Mbaru Niang Rumah adat Manggarai disebut dengan nama rumah Mbaru Niang, mengacu pada bentuknya yang kerucut dengan alas bundar. Mbaru Niang merupakan salah satu rumah adat yang sangat eksotis karena terisolir di atas pegunungan. Mbaru Niang dihuni oleh warga kampung Wae Rebo di Pulau Flores. Kampung ini dikelilingi hutan tropis Manggarai Barat yang lebat dan tepat berbatasan dengan Taman Nasional Komodo. Mbaru Niang di Wae Rebo didirikan sebanyak tujuh buah sebagai simbol penghormatan masyarakat terhadap tujuh gunung yang mengelilingi dan melindungi area kampung. Compang. Sumber Rumah Mbaru Niang dibangun di atas tanah datar dan disusun mengelilingi panggung batu bernama Compang, sebagai pusat dari ketujuh di sekelilingnya. Compang dilengkapi dengan menhir batu yang ditancapkan, dan area ini memiliki fungsi sebagai area pemujaan terhadap Tuhan dan roh leluhur. Susunan rumahnya dibuat dengan arah hadap selatan membentuk setengah lingkaran. Komposisi ini bertujuan agar setiap rumah Mbaru Niang tidak saling membelakangi. Mbaru Niang yang diposisikan di tengah-tengah bernama Mbaru Gendang, dan berfungsi sebagai museum penyimpanan gendang dan barang pusaka lainnya milik warga Wae Rebo. Rumah lainnya yang berjumlah enam di sayap kiri dan kanan Mbaru Gendang disebut Niang Gena rumah tempat tinggal. Nama-nama Niang Gena tersebut adalah 1 Niang Gena Mandok, 2 Niang Gena Jekong, 3 Niang Gena Ndorom, 4 Niang Gena Pirung, 5 Niang Gena Jintam, serta 6 Niang Gena Maro. Eksistensi Mbaru Niang yang berhasil dipertahankan di Wae Rebo memperoleh penghargaan UNESCO Asia-Pasifik sebagai daerah konservasi warisan budaya pada tahun 2012. Fungsi Rumah Adat Mbaru Niang tidak hanya difungsikan untuk rumah hunian, tetapi lebih luas berperan sebagai pusat kegiatan masyarakat Wae Rebo. Setiap Mbaru Niang biasa digunakan 6 sampai 8 keluarga dengan pembagian masing-masing ruang. Filosofi, Ciri Khas dan Keunikan Konstruksi Mbaru Mbaru Niang sebagai rumah tradisional yang diwariskan oleh leluhur secara turun temurun, memiliki berbagai filosofi di setiap elemen di dalamnya. Rumah Mbaru Niang melambangkan seorang ibu dengan menarik intisari sifat melindungi, mengayomi dan memberikan rasa aman. Persambungan di masing-masing konstruksi bangunannya dianggap sebagai visualisasi pernikahan sepasang suami istri dalam membangun keluarga. Keunikan rumah Mbaru Niang berada di bentuk atapnya. Atap rumah Mbaru Niang terbuat dari daun lontar yang dikombinasikan dengan ijuk. Atap tersebut berbentuk kerucut dan dipasang menjulur hingga mencapai tanah. Bentuk kerucut dianggap sebagai representasi perlindungan dan persatuan. Lantai rumah Mbaru Niang disusun dengan bentuk lingkaran menyimbolkan keadilan dan keharmonisan masyarakat. Di dalamnya terdapat lantai bersusun lima dan masing-masingnya diisi dengan ruangan yang memiliki fungsi beragam. Konfigurasi Rumah dan Penjelasan a Pondasi Rumah Mbaru Niang bertipologi rumah panggung. Sehingga di bawah lantai dasarnya terdapat kolong rumah ngaung dengan tinggi kurang lebih satu meter yang biasa dipakai masyarakat untuk melakukan kegiatan ekonomi seperti menenun dan dan kendang hewan untuk memelihara ternak. Pondasi rumah Mbaru Niang terbuat dari batang kayu yang dipancang ke dalam tanah dengan kedalam kurang lebih dua meter. Kayu tersebut dibungkus menggunakan ijuk berlapis plastik dengan tujuan supaya kayu tidak bersentuhan dengan tanah dan menjadi busuk. b Tiang Mbaru Niang disangga oleh dua jenis tiang, yaitu hiri mehe tiang utama dan hiri ngaung tiang pendukung. Jumlah hiri mehe pada Mbaru Niang berjumlah 9 buah dan difungsikan sebagai penyangga utama konstruksi bangunan. Jumlah ini sebagai simbol perjuangan ibu yang mengandung selama 9 bulan. Salah satu dari hiri mehe di rumah Mbaru Niang menggunakan kayu dari pohon utuh dengan tinggi sekitar 15 meter. Hiri mehe dipasang di atas umpak bantalan tiang yang terbuat dari batu besar. Sedangkan hiri ngaung lebih digunakan sebagai penopang lantai dasar dan jumlahnya mencapai 42 tiang. c Atap Atap ijuknya dikenal dengan nama wehang dan dirangkai menggunakan ikatan rotan menjadi rangkaian sepanjang 9 meter. Pada proses pemasangannya dimulai dari bawah ke atas dengan pola tumpukan 21. Artinya dua lapis atap pada bagian bawah akan diikuti dengan satu lapis, kemudian disusul dua lapis lembaran ijuk lagi dan seterusnya hingga mencapai puncak. Kerangka atap dibentuk oleh susunan rangka dari bambu utuh yang disebut buku. Terdapat dua jenis buku dalam konstruksi atap Mbaru Niang, yaitu buku utama dan buku biasa. Jumlah buku utama ada delapan dan pangkalnya dipasang pada setiap penjuru mata angin utara, timur laut, timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut kemudian ujungnya disatukan di puncak. Sedangkan buku biasa bertugas untuk mendukung buku utama, sehingga jumlahnya bervariasi tergantung besarnya atap. d Lantai Lantai rumah Mbaru Niang terdiri dari lima susun, dengan setiap tepi lantainya dibatasi dengan jalinan kayu kenti. Masing-masing lantai di rumah Mbaru Niang memiliki fungsi dan penjelasannya sebagai berikut. 1. Lantai Pertama Tenda Tenda memiliki diameter paling besar yaitu sekitar 11 meter. Lantai pertama disekat menjadi dua ruang, yaitu lutur ruang publik untuk menerima tamu dan molang di sebelah belakang ruang tamu, berfungsi sebagai ruang tinggal. Molang difungsikan sebagai kamar tidur loang yang biasanya berjumlah 6 – 8 tergantung jumlah keluarga, serta dapur hapo dengan jumlah tungku sama seperti jumlah loang. Hal ini karena setiap keluarga yang tinggal di Mbaru Niang memiliki harus memiliki tungku masing-masing. 2. Lantai Kedua Loteng Lobo Mehe Loteng Lobo Mahe berdiameter lebih kecil dari tenda yakni 9 meter. Lantai ini lebih berfungsi sebagai area penyimpanan yang dibagi dalam dua lobo masing-masing untuk menyimpan bahan makanan serta mengawetkan daging dan kayu. Uniknya, di bagian lobo ini salah satu tiang sebesar kepala manusia ditempatkan dengan posisi menggantung sehingga sering dijadikan simbol kelahiran di rumah Mbaru Niang. 3. Lantai Ketiga Lobo Lentar Labo Lentar disusun dengan diameter lantai kurang lebih 6 meter. Fungsi lantai ini untuk menyimpan berbagai jenis benih untuk di tanam di ladang. 4. Lantai Keempat Lemparae Lemparae digunakan untuk ruang penyimpanan stok bahan pangan sebagai bentuk antisipasi masyarakat terhadap kemarau panjang ataupun jika terjadi gagal panen. 5. Lantai Kelima Hekang Kode Hekang Kode ini merupakan lantai di tingkatan paling tinggi dengan diameter hanya sekitar 1,8 meter. Hekang Kode dipakai sebagai ruang penyimpanan pelengkap upacara adat seperti langkar mirip besek anyaman bambu yang dipakai sebagai tempat sesaji. B. Rumah Adat Musalaki Rumah adat Musalaki merupakan salah satu rumah tradisional suku Ende Lio yang berkembang di NTT, tepatnya di Desa Wolotolo, Kabupaten Ende. Nama Musalaki diambil dari kata mosa yang bermakna ketua, dan laki yang berarti adat. Hal ini merujuk pada peruntukan rumah Musalaki sebagai rumah tradisional yang ditinggali oleh para ketua adat kepala suku. Filosofi dan Fungsi Rumah Adat Sketsa Analisa, 2012 Rumah adat Musalaki di Desa Wolotolo lebih sering dikenal dengan nama Sao Ria, yang diartikan sebagai rumah besar yang diperuntukkan oleh empat Mosa Laki Kepala suku. Selain tempat tinggal, Sao Ria memiliki fungsi religi sebagai lokasi pelaksanaan upacara adat seperti kelahiran, kematian, pernikahan, dan upacara yang mendukung kegiatan pertanian. Sao Ria menjadi simbol kesatuan dan kebesaran masyarakat adat Ende Lio. Disini rumah dianggap sebagai representasi seorang perempuan karena menjadi pusat kelahiran generasi baru. Sedangkan, laki-laki disimbolkan pada Tubu Musu yang berada di tengah lapangan yang dikelilingi perkampungan. Selain Sao Ria, komposisi perkampungan Desa Wolotolo juga dilengkapi dengan Sao Keda, yang berfungsi sebagai balai adat untuk pelaksanaan musyawarah. Sao keda ini merupakan lambang kesakralan bagi suku Ende Lio sebab dianggap sebagai awal mula munculnya pemukiman penduduk dengan model rumah yang sama. Elemen tambahan lain yang melengkapi pemukiman suku Ende Lio antara lain, Kanga yaitu area pemujaan Dua Ngae Tuhan berlokasi di depan Sao Keda, Tubu musu tugu batu, Kebo Ria Lumbung beras serta Rate Makam. Ciri Khas dan Keunikan Rumah Musalaki atau Sao Ria memiliki ciri bangunan yang lebih tinggi dan besar dibandingkan rumah penduduk biasa. Rumah ini menggunakan tipologi rumah panggung dan tidak memiliki jendela. Dinding pada rumah Musalaki tidak terlihat karena susunan atapnya yang menjuntai hingga bawah. Atap rumah Musalaki namanya ubu bewa dengan ciri memiliki tinggi mencapai 9 meter terhitung dari tiang sampai puncak atap atau saka ubu. Tiang keliling lake kaka berukuran lebih pendek daripada tiang utama lake one sao. Keunikan lainnya adalah rumah adat ini hanya memiliki tiga buah anak tangga sebagai penghubung ke dalam rumah. Arsitektur Rumah dan Keterangannya Pola perumahan diatur mengelilingi Sao Keda dan Kanga. Konstruksi pendukung rumah dijelaskan sebagai berikut Lake Lewu Tiang Kolom terbuat dari batu lonjong dan kayu, dengan jumlah menyesuaikan besar kecilnya rumah. Tangi Tangga dibedakan menjadi tangga utama di bagian samping rumah dan tangi lulu ire mbasa di bagian belakang rumah bercirikan hanya memiliki anak tangga berjumlah tiga. Padha tenda berada di samping kiri dan kanan tangga utama, serta difungsikan sebagai balai tempat bersantai. Bengu Sesu penghubung menghubungkan tangga utama dengan pintu rumah yang berada diantara tenda singi lau tenda kiri dengan tenda singi gheta tenda kanan. Isi Khubi kayu palang merupakan kerangka rumah berbentuk persegi panjang yang sekaligus membagi ruangan di dalam rumah adat. Leke raja tiang atap berjumlah 2-4 tiang dan berposisi di tengah rumah untuk menopang atap. Wisu tiang sudut dan Hai dari tiang pendukung merupakan tiang rangka yang membentuk atap. Ate Ubu atap rumah berbahan ijuk nao dan alang-alang ki. Kebi dan seemo dinding rumah terbuat dari papan kayu. Pere, Pene dan Pete pintu terdiri dari dua daun pintu yang dipenuhi ukiran khas suku Ende Lio. Konfigurasi Ruang dan Penjelasannya 1. Bera Waja dapur Berbeda dengan susunan rumah adat lain, rumah Musalaki memiliki dua dapur yaitu dapur utama dan dapur umum. Dapur utama dalam rumah Musalaki justru berada di bagian depan, dekat dengan pintu utama, dan berfungsi untuk memasak sesaji pa’a loka upacara adat. Sedangkan dapur umum yang digunakan keluarga, berada di sekeliling koja ndawa. Masyarakat suku Ende masih berpegang teguh pada filosofi satu keluarga satu tungku, sehingga di dalam dapur utama jumlah tungkunya sesuai dengan jumlah kepala keluarga yang tinggal. 2. Koja Ndawa ruang utama Koja Ndawa berada di susunan paling depan setelah pintu masuk. Ruangannya tidak dilengkapi plafon karena bagian atas digunakan untuk menggantung Ola Teo sebagai perlengkapan upacara adat. Ruangan ini berfungsi untuk menerima tamu dan kegiatan sosial kemasyarakatan lain seperti musyawarah 3. Soja kamar tidur Soja adalah kamar-kamar tidur yang langit-langitnya dilengkapi dengan plafon. Letaknya berada di sayap kiri dan kanan dengan posisi sejajar rumah. Jumlah Soja bergantung pada banyaknya keluarga yang tinggal dalam satu rumah Musalaki. C. Rumah Adat Sao Ata Mosa Lakitana Rumah adat Sao Ata Mosa Lakitana adalah nama kolektif untuk beberapa rumah adat dari NTT. Secara umum rumah jenis ini memiliki dua jenis konstruksi, yaitu Amu Kelaga rumah panggung dan Amu Laburai rumah berdinding tanah. Karena merupakan nama kolektif, Sao Ata Mosa Lakitana memiliki atap rumah yang beragam sebagai identitas masing-masing suku pendukungnya. 1. Bentuk atap Joglo Bentuk atap ini diterapkan pada rumah adat ini sebagai ciri khas bahwa rumah Sao Ata Mosa Lakitana tersebut berasal dari suku Sumba. Keunikan dari rumah adat suku Sumba ini adalah memiliki pintu khusus yang dibedakan untuk laki-laki dan perempuan. Pintu perempuan mempunyai akses ke dapur sebagai pusat kegiatan ibu rumah tangga. Sedangkan pintu laki-laki berada di rumah depan sekaligus sebagai pintu utama. 2. Bentuk atap perahu terbalik Bentuk atap ini merupakan karakteristik rumah yang dimiliki oleh suku Rote. Keunikannya terletak pada susunan rumah yang dibuat menjadi tiga lantai dengan fungsi berbeda. Lantai pertama digunakan sebagai ruang penyimpanan padi, lantai kedua difungsikan sebagai ruang tinggal untuk tidur, dan lantai ketiga digunakan untuk penyimpanan rempah-rempah dan hasil bumi lainnya. 3. Bentuk atap kerucut bulat Bentuk atap kerucut bulat merupakan rumah Sao Ata Mosa Lakitana yang biasanya menunjukkan kepemilikan dari suku Timor. Rumah dari suku Timor di pulau Timor ini juga dikenal dengan nama rumah bulat atau Ume Khubu. Konstruksi rumahnya berbentuk bulat, menyerupai rumah Mbaru Niang. Pintu rumah bulat hanya sekitar satu meter dan mengharuskan menunduk ketika akan memasuki rumah. Rumah ini tidak dilengkapi dengan jendela dan sekat dalam rumah. Konstruksi ini dibuat untuk menyulitkan musuh untuk masuk, sehingga rumah bulat tidak hanya untuk tempat tinggal tetapi sekaligus sebagai benteng pertahanan. D. Rumah Adat Sao Ngada Rumah adat Sao Ngada merupakan identitas suku Bajawa yang berada di Ngada, Pulau Flores. Terdapat dua jenis rumah adat yaitu Sao Saka Pu’u rumah induk sebagai lambang leluhur perempuan dan Sao Saka Lobo rumah mewakili leluhur laik-laki. Sao Saka Lobo umumnya mempunyai ukuran rumah yang lebih kecil daripada Sao Saka Pu’u. Rumah Sao Saka Pu’u. Sumber Kadafi, 2018 Rumah Sao Saka Lobo. Sumber Kadafi, 2018 Masih seperti rumah adat NTT lainnya, rumah adat ini bertipologi rumah panggung dengan atap terbuat dari perpaduan ijuk dan alang-alang. Dindingnya terbuat dari papan kayu dengan beberapa hiasan berupa ukiran. Keunikan dari rumah adat ini terletak daun pintunya yang didesain rendah sehingga harus merunduk ketika akan masuk. Selain itu, pola pemukimannya dibuat membentuk huruf U. Saat ini eksistensi rumah adatnya dapat dilihat di Kampung Bena, sebagai wisata budaya kampung tertua di Pulau Flores. Jadi semakin greget ya belajar mengenai warisan budaya di Indonesia. Nusa Tenggara Timur yang tergolong pulau kecil saja memiliki beragam budaya dengan kompleksitas setinggi ini. Benar-benar harus bangga menjadi orang Indonesia, ya! - Apa Saja Bagian Rumah Adat Mbaru Niang Dan Fungsinya? Untuk dapat menjawab soal tersebut, tentu saja kita harus tahu lebih dulu maksut dari soal tersebut. Di ambil dari beberapa sumber terpercaya, dapat kita simpulkan jawaban dan solusi yang tepat untuk soal "Apa Saja Bagian Rumah Adat Mbaru Niang Dan Fungsinya". Mari kita simak penjelasannya dalam kesempatan kali ini. Jawaban Apa saja bagian rumah adat mbaru niang dan fungsinya lutur, loteng, lentar, lempa rae, dan hekang kode. Pembahasan Rumah adat Mbaru Niang merupakan rumah adat Suku Manggarai. Rumah ini berbentuk kerucut dengan ketinggian mencapai 15 meter. Dinding rumah terbuat dari kayu dan bambu. Atapnya terbuat dari ijuk yang disebut wunut. Setiap bagian rumah direkatkan dengan menggunakan rotan dan tanpa paku sama sekali. Fungsi masing-masing bagian rumah adat Mbaru Niang adalah Lutur, berfungsi sebagai tempat tinggal dan berkumpul dengan keluarga. Loteng, berfungsi untuk menyimpan bahan makanan dan barang-barang sehari-hari. Lentar, berfungsi untuk menyimpan benih-benih tanaman pangan, seperti benih jagung, padi, dan kacang-kacangan. Lempa rae, berfungsi untuk menyimpan bahan makanan apabila terjadi kekeringan. Hekang kode, berfungsi untuk tempat sesajian persembahan kepada leluhur. Jadi apa saja bagian rumah adat mbaru niang dan fungsinya lutur, loteng, lentar, lempa rae, dan hekang kode. Demikian jawaban dari latihan soal Apa Saja Bagian Rumah Adat Mbaru Niang Dan Fungsinya. Semoga bisa membantu belajar kamu. Belajar adalah proses yang penting dalam kehidupan murit. Akan tetapi, terkadang belajar bisa menjadi hal yang melelahkan dan membosankan, terutama jika Kamu tidak tahu cara belajar yang efisien. Belakangan ini, bimbingan online telah menjadi cara praktis dalam menolong siswa untuk meningkatkan kualitas belajar mereka. Bimbingan online memberikan kemudahan bagi siswa dan guru untuk belajar dan mengajar tanpa terbatas oleh waktu dan jarak. Ini berarti siswa dapat belajar dari mana pun dan kapan saja, bahkan dari luar negeri. Bagi kamu yang merasa perlu les privat sbmptn secara online dapat menggunakan aplikasi - Rumah adat Mbaru Niang merupakan salah satu rumah adat yang adat di Provinsi Nusa Tenggara Timur NTT. Rumah adat Mbaru Niang berada di Kampung Adat Wae Rebo, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, NTT tepatnya di Gunung Pocoroko. Kampung Wae Rebo terletak di ketinggian sekitar meter diatas permukaan laut dan dikelilingi oleh gunung, hutan lebat, dan jauah dari perkampungan adat Mbarung Niang berbentuk kerucut dan memiliki lima lantai dengan tinggi sekitar 15 meter. Dikutip dari buku Mbaru Gendang, Rumah Adat Manggarai, Flores Eksistensi, Sejarah, dan Transformasinya 2020 karya Yohanes dan Fransiska Widyawati, Mbarung Gendang disebut juga Mbaru Niang. Secara etimologis kata niang berati rumah yang atapnya berbentuk kerucut dan memiliki kolong. Atap rumah Mbaru Niang tinggi dan menjorok jauh ke bawah, sehingga sekaligus juga berfungsi sebagai dinding rumah. Baca juga Rumah Baileo, Rumah Adat Maluku Rumah Mbaru Niang ditopang oleh satu tiang utama yang disebut siri bongkok. Rumah model tersebut dianggap sebagai bentuk rumah yang sudah lama dan asli di Manggarai. Pada mulanya ada dua jenis Mbaru Niang. Ada niang gendang tempat disimpannya gendang dan niang bendar. Pada niang gendang memiliki rangga kaba kaki tanduk kerbau jantan atau mangka gasing yang diukir dengan bentuk muka manusia di puncak rumah. Kayu penyangga utama atau siri bongkok mbaru niang gendang diambil dari hutan dengan cara arak-arakan yang dikenal dengan acara osong nyanyian pembuka mantera atau roko moloas poco. Hal itu berbeda dengan siri bongkok pada niang bendar yang diambil dari hutan tanpa disertai dengan arak-arakan dalam acara osong atau roko molas poco. Bagi masyarakat Wae Rebo, mbaru niang merupakan simbol pelindungan, persatuan warga, dan menjadi pusat kegiatan sosial masyarakat, terutama yang berhubungan dengan persoalan adat. Baca juga Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional Selain itu, mbaru niang dianggap sebagai simbol seorang ibu yang selalu mengayomi dan melindungi. Rumah adat Mbaru Niang sarat dengan simbol, seperti persambungan pada konstruksi bangunan melambangkan perkawinan suami dan istri yang membentuk keluarga. MAKUR Keunikan arsitektur Mbaru Niang Todo, Desa Todo, Kecamatan Satarmese Utara, Kabupaten Manggarai, Flores, NTT, Oktober 2018 memikat wisatawan asing dan Nusantara serta peneliti budaya dan para antropolog untuk menggali peradaban di kampung tradisional tersebut. Tingkatan rumah Mbaru Niang Dikutip dari buku 70 Tradisi Unik Suku Bangsa di Indonesia 2019 karya Fitri Haryani NasuXon, rumah Mbaru Niang memiliki desain unik dan terpencil di pegunungan karena hanya ada di Kampung Adat Wae Rebo. Bahkan rumah adat tersebut mendapatkan penghargaan teringgi untuk kategori konservasi warisan budaya UNESCO Asia-Pasific pada 2012. Rumah adat Mbaru Niang berbentuk kerucut dan atapnya terbuat dari daun lontar hampir menyentuh tanah. Keseluruhan rumah tersebut ditutupi menggunakan ijuk. Uniknya pembuatan rumah adat tersebut dibangun tanpa menggunakan paku, tetapi memakai tali rotan. Baca juga Sejarah Suku Tidung, Kerabat Suku Dayak Setiap rumah Mbarung Niang ditempati oleh enam hingga delapan keluarga. Rumah adat Mbaru Niang memiliki lima lantai dan masing-masing lantai memiliki fungsi yang fungsi tingkatan rumah Mbarung Niang Tingkatan pertama Pada ruang tingkatan pertama digunakan sebagai tempat tinggal dan untuk berkumpul dengan keluarga. Tingkatan pertama tersebut biasa disebut lutur bagian depan yang berfungsi sebagai ruang publik. Pada tingkat pertama memiliki diameter 11 meter. Tingkatan kedua Ruang tingkatan kedua merupakan loteng yang berfungsi untuk menyimpan bahan makanan dan barang keperluan sehari-hari. Tingkat kedua tersebut biasanya disebut lobo. Memiliki diameter sekitar 9 meter. Di lobo ini terdapat tiang yang digantung dan berbentuk bulat sebesar kepala manusia sehingga sering dianggap sebagai perlambangan kelahiran bayi. Baca juga Kehidupan Zaman Sejarah di Indonesia Tingkatan ketiga Tingkatan ketiga biasa digunakan untuk menyimpan benih-benih tanaman pangan, seperti padi, jagung, dan kacang-kacangan. Tingkat ketiga disebut lentar dengan berdiameter sekitar 9 meter. Tingkatan keempat Tingkatan keempat berguna untk menyimpan stok makanan jika suatu saat terjadi kekeringan akibat musim kemarau atau gagal panen. Tingkatan empat disebut juga lempa rae Tingkatan kelima Pada ruang di tingkatan kelima merupakan tempat untuk melakukan sesajian yaitu persembahan untuk leluhur. Tingkatan kelima disebut juga hekang kode. Dikutip dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kemdikbud, rumah Mbaru niang disangga oleh tiang-tiang penyangga rumah yang terdiri dari dua jenis, yaitu hiri ngaung dan hiri mehe tiang utama. Karya Yori Antar ini terinspirasi oleh rumah adat warga desa terpencil Wae Rebo, Flores, yang disebut Mbaru Niang. Rumah asuh ini terpilih sebagai salah satu kandidat pemenang penghargaan bergengsi dunia, Aga Khan Award 2013Kedua tiang tersebut memiliki fungsi berbeda, yaitu hiri ngaung berfungsi untuk menanggung beban lantai dasar, sedangkan hiri mehe berfungsi sebagai tiang utama penyangga beban bangunan. Baca juga Sejarah Kota Surabaya Seluruh tiang penyangga ditancapkan ke tanah dan dilapisi ijuk serta plastik agar tidak cepat lapuk. Perbedaan antara keduanya adalah hiri ngaung ditancapkan dengan kedalaman minimal 80 cm dan di bagian bawahnya diberi umpak batu, sedangkan hiri mehe kedalamannya minimal 100 cm. Dalam satu mbaru niang, hiri mehe biasanya berjumlah sembilan, sedangkan hiri ngaung berjumlah sekitar 42. Oleh masyarakat sekitar, sembilan hiri mehe melambangkan jumlah bulan ketika seorang ibu mengandung. Setiap mbaru niang memiliki tinggi kolong ngaung sekitar 1 m dan biasanya digunakan untuk menenun, meletakkan kayu atau barang lainnya, serta memelihara ternak. Keberadaan rumah Mbaru Niang di Wae Rebo tidak berubah sejak Kampung Wae Rebo didirikan. Tujuh mbaru niang tersebut terdiri dari satu mbaru gendang rumah yang dipakai untuk menyimpan gendang serta pusaka milik Kampung Wae Rebo serta enam niang gena rumah biasa sebagai tempat tinggal. Baca juga Sejarah Munculnya Bendera Enam niang gena itu diberi nama Niang Gena Maro, Niang Gena Jintam, Niang Gena Pirung, Niang Gena Ndorom, Niang Gena Jekong, dan Niang Gena Mandok. Ketujuh Mbaru Niang tersebut dibangun menghadap selatan dan membentuk pola setengah lingkaran. Pola tersebut memiliki makna yang dalam, yaitu menjaga agar antara rumah satu dengan rumah yang lainnya tidak ada yang saling membelakangi. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Rumah Adat Mbaru, ada yang pernah mendengarnya? Nah, mungkin kalian yang belum kenal wajib banget buat tahu karena rumah adat Mbaru niang ini merupakan rumah adat dari NTT yang bentuknya terkenal unik. Tidak lupa rumah adat ini juga sudah diakui sebagai warisan budaya oleh UNESCO Asia-Pacific. Rumah adat Mbaru niang ini adalah rumah adat dari Desa Wae Rebo yang berada di kawasan pegunungan Manggarai. Yuk kenalan lebih lanjut sama rumah adat Mbaru Niang Khas NTT! Atap Rumah dari Daun Lontar Iya, atap rumah adat Mbaru NTT ini bukan terbuat dari keramik, seng, atau genting pada umumnya. Atap rumah adat Mbaru ini terbuat dari Daun Lontar yang telah dikeringkan. Daun Lontar ini menutupi rumah hingga bisa menyentuh tanah. Keren dan unik banget pastinya! Atap Rumah berbentuk Limas Sumber Gambar Pasti kalau melihat rumah dari atas baru ke bawah. Nah, ini juga berlaku untuk rumah adat Mbaru. Kita pasti akan langsung terkagum karena bentuk atapnya yang menyerupai kerucut. Tapi yang paling mengejutkan kalau dilihat dari keseluruhan rumah ternyata bentuknya limas, yang selimutnya baru berbentuk kerucut dan alasnya lingkaran. Menurut adat dan kepercayaan Wae Rebo, bentuk kecurut ini memiliki filosofi yaitu sebagai simbol perlindungan dan persatuan rakyat. Bentuk lingkaran lantai rumah memiliki filosofi yang melambangkan keadilan dan juga harmonisasi dalam berkeluarga maupun jadi warga negara. Unik banget, kan! Dibangun Tanpa Menggunakan Paku Sumber Gambar Keunikan tidak hanya sampai disini saja, karena jika kamu melihat lebih teliti bangunan rumahnya. Kamu tidak akan menemukan paku satupun didalamnya. Untuk menggantinya, mereka menggunakan tali rotan sebagai pengait antar bagian pada rumah Mbaru Niang. Tapi untuk kekuatan, hmm jangan diragukan! Karena apa? Rumah ini malah mampu bertahan di pegunungan, padahal area pegunungan sendiri anginnya cukup kencang. Memiliki 5 Lantai Sumber Gambar Tribunnews Dengan ketinggian mencapai 15 meter, bukan tanpa suatu alasan karena rumah Mbaru Niang ini ternyata mempunya 5 lantai. 5 lantai ini memiliki fungsi yang berbeda-beda. Pada lantai pertama memiliki fungsi untuk tempat berkumpulnya keluarga. Pada lantai dengan tingkatan kedua ini digunakan untuk menyimpan bahan-bahan makanan dan juga barang untuk keperluan dan tingkatan ini disebut dengan area loteng. Lantai ketiga untuk menyimpan benih-benih untuk tanaman yang akan ditanam. Kemudian tingkat keempat atau lantai empat ini digunakan untuk menyimpan stok makanan jika kalau terjadi sesuatu seperti kekeringan atau gagal panen. Dan yang terakhir lantai 5 untuk menaruh sesajian. Jumlahnya Selalu 7 Sumber Gambar Jumlah dari rumah Mbaru ini hanya boleh 7 tidak boleh lebih, hal itu berlangsung semenjak sebelum abad ke-18. Rumah ini akan selalu tetap 7 karena memiliki lambang yang berarti penghormatan pada tujuh arah gunung yang diyakini sebagai pelindung kampung adat tersebut. Lantainya Tidak Boleh Menyentuh Tanah Sumber Gambar Rumah ini memiliki aturan adat dari leluhur masyarakat Wae Rebo bahwa lantai rumahnya tidak boleh menyentuh lantai. Ijuk yang menjadi dinding selimut bangunan yang menjulur ke bawah nyatanya tidak menyentuh tanah karena rumah adat ini memiliki kolong rumah setinggi satu meter. Nah, itu tadi beberapa keunikan rumah adat Mbaru Niang dari desa Wae Rebo. Jadi penasaran kan buat berwisata ke rumah adat khas NTT ini! HomevernakularRumah Adat Mbaru Niang Wae Rebo Flores 3/13/2019 0 Comments Keunikan Rumah Adat Mbaru Niang Rumah adat Mbaru Niang adalah contoh karya arsitektur vernakular yang unik, rumah berbentuk kerucut ini mirip seperti rumah Honai di Papua dan cukup mirip dengan rumah adat di Tanjania, Afrika. Atapnya ditutupi daun lontar, dari atas hingga ke bawah dan hampir menyentuh tanah, Tingginya mencapai 15 m dengan pembagian beberapa lantai. Rumah adat Mbaru Niang dapat ditemukan di kampung Wae Rebo, Gunung Pocoroko, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Rumah adat Mbaru Niang, Wae Rebo - img by pinterest Rumah adat Mbaru Niang biasanya memiliki diameter lantai dasar sekitar 15 m dan terbagi atas 5 lantai. Rumah adat ini termasuk langka dan tinggal hanya beberapa unit saja di daerah asalnya. Rumah ini umumnya dihuni oleh 6 sampai 8 keluarga. Adapun yang pertama kali menemukan rumah adat ini justru orang luar Indonesia yaitu antropolog asal Belanda, Catherine Allerton yang mencari daerah Wae Rebo untuk kepentingan penelitiannya. Tata Ruang Rumah adat Mbaru Niang secara tata ruang vertikal terbagi atas 5 lantai. Setiap level lantainya mempunyai nama dan fungsinya masing-masing yaitu Lantai pertama lantai dasar disebut lutur yang dipakai sebagai tempat tinggal dan berkumpul dengan keluarga. Tingkat lutur dibagi tiga, bagian depan ruangan untuk bersama, seperti ruang keluarga. Di bagian dalam adalah kamar-kamar yang dipisahkan dengan papan, sementara dapur ada di bagian tengah rumah. Lantai kedua merupakan loteng atau disebut lobo berfungsi untuk menyimpan bahan makanan dan barang-barang sehari-hari Lantai ketiga dinamakan lentar yaitu tempat untuk menyimpan benih-benih tanaman pangan, seperti benih jagung, padi, dan kacang-kacangan Lantai keempat disebut lempa rae yang digunakan untuk stok pangan apabila terjadi kekeringan, Lantai kelima disebut dengan hekang kode sebagai tempat untuk sesajian persembahan kepada leluhur. Proses pembangunan rumah adat Mbaru Niang, Wae Rebo - img by designboom Setiap rumah adat Mbaru Niang memiliki dua pintu, yaitu di depan, di belakang. Selain itu juga terdapat empat jendela kecil. Pintu depan setiap rumah adat dibangun menghadap ke compang. Compang adalah titik pusat Kampung Wae Rebo yang berada di batu melingkar di depan rumah utama. Compang dipakai sebagai pusat kegiatan warga untuk mendekatkan diri dengan alam, leluhur dan Tuhan. Struktur dan Konstruksi Rumah adat Mbaru Niang strukturnya terdiri dari 5 lantai yang memiliki fungsi tertentu. Tiang utama dibuat dari bahan kayu Worok, papan lantai dibuat dari kayu Ajang, sementara untuk balok-balok struktur rumah menggunakan kayu Uwu. Gambar struktur rumah mbaru niang wae rebo - Rangka atap rumah dibuat dari bambu, ada juga yang dibuat dari kayu yang berukuran 1 cm, yaitu kayu kentil. Kayu-kayu ini dirangkai membentuk ikatan-ikatan panjang, yang kemudian diikatkan secara horizontal membentuk lingkaran pada setiap tingkatan lantai rumah. Proses pembangunan rumah adat ini dimulai dengan meletakan tiang utama pada lantai dasar yang dimasukan sekitar 1,50 sampai meter ke dalam tanah. Supaya tiang utama ini tidak cepat lapuk, tiang ini dilapisi ijuk. Lantai dasar rumah ini dibuat seperti panggung, tingginya sekitar m dari permukaan tanah. Proses pemasangan atap - Tahap selanjutnya adalah pemasangan balok-balok lantai dan langkah yang sama dilakukan hingga lantai yang terakhir. Tiang disetiap tingkat lantainya ternyata tidak menerus, namun terputus disetiap tingkat lantainya. Setelah setiap lantainya berbentuk lingkaran, proses selanjutnnya yaitu memasang rangka atap atap yang terbuat dari bambu. Rumah ini menggunakan bahan rotan sebagai bahan balok-balok strukturnya. Penghargaan Karena kelangkaan dan keunikannya, rumah adat Mbaru Niang diberikan pengharhargaan oleh UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation. Ini merupakan penghargaan tertinggi dalam bidang konservasi warisan budaya tahun pada 2012. Wae Rebo berhasil menyingkirkan pesaing-pesaing dari seluruh dunia yang juga tak kalah uniknya. Selain itu, Rumah adat ini ternyata menjadi salah satu kandidat peraih Aga Khan untuk arsitektur tahun 2013. Rumah Adat Mbaru Niang, Wae Rebo - pinterest Demikianlah mengenai Rumah Adat Mbaru Niang di Kampung Wae Rebo, Flores. Bahkan dunia telah mengakui keunikan arsitektur rumah adat ini. Sebagai generasi penerus hendaknya bangga memiliki warisan yang mendunia. Keunikan rumah ini dapat menjadi inspirasi arsitek-arsitek di Indonesia untuk menciptakan karya yang mampu menghargai kearifan lokal. Referensi Antar, Yori. 2012. “Neka Hemong Wae Rebo”. Majalah Backpackin, Edisi agustus-september 2012. Hal 30-32 disadur dari Buku Pesan Dari Wae Rebo.

apa saja keunikan rumah adat mbaru niang